Al-Fatihah adalah surat yang begitu istimewa. Surat yang terdiri dari 7 ayat, dialah as-Sab’ul-Matsaani (Tujuh yang Berulang-ulang). Selain itu, ia dikenal juga dengan nama Ummul-Qur’an (Induk al-Qur’an) karena memang surat ini mengandung beberapa unsur pokok yang mencerminkan seluruh isi al-Qur’an seperti keimanan (tauhid) yang ditegaskan oleh ayat 5, yakni { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } .
Berikut ini akan saya bawakan beberapa faidah dari kitab Taisirul-Karimir-Rohmaan karya al-‘Allaamah as-Syaikh Abdur-Rohmaan bin Naashir As-Sa’di rahimahulloh mengenai tafsir ayat tersebut.
Ini adalah teks arabnya yang saya salin dari kitab Taisirul-Karimir-Rohmaan hal. 25 (cet. Daaru Ibni Hazm),
وقوله { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } أي: نخصك وحدك بالعبادة والاستعانة, لأن تقديم المعمول يفيد الحصر, وهو إثبات الحكم للمذكور, ونفيه عما عداه. فكأنه يقول: نعبدك, ولا نعبد غيرك, ونستعين بك, ولا نستعين بغيرك. وقدم العبادة على الاستعانة, من باب تقديم العام على الخاص, واهتماما بتقديم حقه تعالى على حق عبده. و { العبادة } اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأعمال, والأقوال الظاهرة والباطنة. و { الاستعانة } هي الاعتماد على الله تعالى في جلب المنافع, ودفع المضار, مع الثقة به في تحصيل ذلك. والقيام بعبادة الله والاستعانة به هو الوسيلة للسعادة الأبدية, والنجاة من جميع الشرور, فلا سبيل إلى النجاة إلا بالقيام بهما. وإنما تكون العبادة عبادة, إذا كانت مأخوذة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم مقصودا بها وجه الله. فبهذين الأمرين تكون عبادة, وذكر { الاستعانة } بعد { العبادة } مع دخولها فيها, لاحتياج العبد في جميع عباداته إلى الاستعانة بالله تعالى. فإنه إن لم يعنه الله, لم يحصل له ما يريده من فعل الأوامر, واجتناب النواهي
1. Syaikh menerangkan firman Alloh { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } berarti : kami mengkhususkan ibadah dan meminta pertolongan hanya kepada Engkau (yaa Alloh), karena mendahulukan {المعمول} (mendahulukan {ك} sebelum fiil (kata kerja) {نعبد}) memberikan faidah {الحصر} yakni pembatasan, pembatasan ini adalah penetapan hukum (beribadah dan meminta pertolongan) kepada yang disebutkan {ك} (Alloh) dan meniadakan hukum kepada selainnya. Seolah-olah dikatakan {نعبدك, ولا نعبد غيرك} “Kami beribadah kepada Engkau (yaa Alloh), dan kami tidak beibadah kepada selain Engkau.” {ونستعين بك, ولا نستعين بغيرك} dan “Kami meminta pertolongan kepada Engkau (yaa Alloh), dan kami tidak meminta pertolongan kepada selain Engkau.”
2. Ibadah disebutkan lebih dahulu daripada isti’anah (meminta pertolongan) karena menyebutkan yang umum dulu baru kemudian setelahnya disebutkan yang khusus. Ibadah bersifat umum yang cakupannya luas dan isti’anah sendiri termasuk salah satu bentuk ibadah. Hal ini memberikan faidah adanya {اهتماما} yakni, memberikan perhatian dengan pendahuluan hak Alloh Ta’ala atas hak hamba-Nya.
3. Syaikh memberikan definisi {العبادة} dan {الاستعانة}
A. {العبادة} (Ibadah) adalah apa saja yang dicintai dan diridhoi oleh Alloh, baik berupa amalan (perbuatan) maupun perkataan, baik berupa amalan lahir maupun amalan batin. [definisi ini senada dengan definisi yang diberikan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Al-’Ubudiyyah yang merupakan jawaban atas orang yang bertanya tentang persoalan ibadah]
B. {الاستعانة} (Isti’anah) adalah bersandar (bergantung) kepada Alloh Ta’ala untuk mendapatkan segala kebaikan serta supaya terhindar dari hal yang membahayakan, dan merasa yakin kepada-Nya bahwa Dia akan mewujudkan hal tersebut.
4. Ada suatu faidah yang bagus yang disampaikan Syaikh yakni perkataannya, “Mengerjakan ibadah dan beristi’anah kepada Alloh adalah wasilah (jalan) untuk meraih kebahagiaan abadi dan keselamatan dari segala keburukan.” Maka tiada jalan untuk menggapai keselamatan kecuali dengan beribadah dan beristi’anah kepada Alloh Ta’ala.
5. “Ibadah disebut ibadah (artinya ibadah itu sah) jika dan hanya jika ibadah tersebut bersumber dari Rosululloh dan diniatkan untuk mengharap Wajah Alloh.” Ingatlah dua syarat diterimanya ibadah yakni 2 I (Ikhlas, Ittiba [mengikuti sunnah]). Dalam Hilyatul Auliyaa’ disebutkan tentang komentar al-Fudhoil tentang firman Alloh QS. Al-Mulk ayat 2 “ليبلوكم أيكم أحسن عملا” maksudnya yang paling ikhlas dan paling benar. Jika amalan itu ikhlas tapi tidak benar, maka tidak diterima. Pun jika amalan itu benar tapi tidak ikhlas, maka tidak akan diterima pula sampai amalan tersebut dilakukan secara ikhlas. Ikhlas artinya dilakukan karena Allah. Sedangkan benar artinya sesuai dengan Sunnah (tuntunan yang diberikan oleh Rasulullah (صلى الله عليه و سلم)).
6. Dan disebutkannya isti’anah setelah ibadah memberikan faidah tentang kebutuhan seorang hamba melakukan seluruh ibadahnya untuk meminta tolong kepada Alloh. Maka seandainya Alloh tidak menolongnya, tidak akan terwujud apa yang diinginkan hamba berupa amalan ketaatan dan amalan menjauhi hal-hal yang dilarang.
Supaya lebih memahami faidah ini coba lihatlah apa yang disabdakan Nabi (صلى الله عليه و سلم) kepada Mu’adz, beliau bersabda, “Demi Allah, aku benar-benar mencintaimu. Maka janganlah kamu lupa untuk membaca doa di setiap akhir shalat: ‘Allahumma a’innii ‘ala dzikrika wa syukrika, wa husni ‘ibaadatik.’ (Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu dan bersyukur kepada-Mu, serta agar bisa beribadah dengan baik kepada-Mu).” (HR. An Nasa’i [1303] dalam pembahasan Sujud Sahwi, Abu Dawud [1522] dalam pembahasan Solat, dan Ahmad [21614]. Hadits ini disohihkan oleh Syaikhul-Albani).
7. Berbicara tentang berobat dengan al-Qur’an, maka kalau dicermati ayat ini mengandung obat atas penyakit yang sangat berbahaya, yakni riya (beramal ingin dilihat orang lain) dan ujub (berbangga-bangga diri atas amalan).
Jika seseorang memahami ayat ini dan diperolehlah pengetahuan bahwa ibadah itu adalah sesuatu yang hanya diperuntukkan bagi Alloh, pengetahuan akan konsekuensi tak diterimanya ibadah yang tak diperuntukkan bagi-Nya, jadi sudah semestinya (insya Alloh) seseorang itu terhindar dari riya. Pun jika seseorang itu mengetahui bahwa ibadah itu terjadi karena rahmat, taufiq dan pertolongan Alloh atas dirinya, sedang dirinya tak memiliki daya apapun, jadi untuk apa dia berbangga-bangga diri (ujub) atas amalan yang dia kerjakan.
Wallohu’alam
Ditulis oleh Riksa Ginanjar pada hari Ahad, 04 Mei 2014 di Wisma Daarul Qur’an.
Dari https://wismadarulquran.wordpress.com/2014/05/04/beberapa-faidah-ayat-إِيَّاكَ-نَعْبُدُ-وَإِيَّاكَ-نَس/

No comments:
Post a Comment