CINTA KEPADA RASULULLAH
Beliaulah yang berjasa bagi kita. Satu perkara untuk cinta kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam adalah perkara agung setelah mencintai Allah Ta’ala. Seperti kisah Umar saat menyampaikan kepada Rasulullah bahwa beliau adalah orang yang lebih ia cintai daripada dirinya. Maka sempurnalah imannya [1]. Maka cintailah Rasulullah dengan mengikuti segala ajarannya. Lalu, bagaimana menjadi manusia yang cinta kepada Rasul ? Berikut adalah kiat-kiatnya.
- Berjihad, yakni melawan diri sendiri (nafsu) dan lebih mencintai Rasulullah [2] sebagai manusia yang paling dicintai.
- Melaksanakan konsekuensi syahadat, percaya sepenuhnya [3] dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Senantiasa menjalankan apa yang Dia perintahkan dan menjauhi apa saja yang dilarang.
- Bersemangat mengikuti ajaran nabi dalam beribadah kepada Allah sehingga mengharuskan kita untuk belajar, memahami hadist-hadist nabi dan menimba ilmu dari para ulama.
Pada akhir kajian, Syaikh memberikan nasihat berharga perihal urgensi menjaga persatuan kaum mukminin serta bahayanya melakukan kreativitas dalam beribadah kepada Allah [4]. Maksud kreativitas di sini adalah mengada-adakan perkara baru dalam beribadah. Bahwa Allah sangat murka kepada hal itu. Yang diajarkan Islam adalah membangun ukhuwah, di manapun berada. Tinggalkanlah seruan jahiliyah yaitu fanatisme pada suatu kelompok tertentu [5]. Ikatan yang dibangun adalah karena iman, bukan karena fisik. Seperti dinukil dari kisah Ibnu Mas’ud. Karena betisnya kecil maka orang-orang di sekitarnya sering menertawakannya. Sungguh, apabila betis itu ditimbang maka lebih berat dari Gunung Uhud [6]. Maka, kita berdoa kepada Allah agar umat Islam di penjuru dunia senantiasa terjaga kesatuannya, tidak tersulut emosi ketika mendapatkan fitnah. Kita perlu belajar pada kisah Rasulullah ketika sholat di sekitar ka’bah dan dilempari kotoran unta di atas pundaknya oleh pasukan Abu Jahal. Beliau tetap tenang, diam, dan tidak membalas keburukan [7]. Maka sesunggu[h]nya, kesabaran umat Islam saat ini sedang diuji dan hanya kepada Allahlah tempat kita bergantung dan berserah diri.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (QS. Al Maa`idah [5]: 54)
Wallahu’alam bishawab, demikian sedikit ilmu yang berhasil saya catat. Semoga dapat diambil faedahnya. Semoga Allah menjaga beliau Syaikh Prof. Dr. Anis Thahir Jamal al Indunisy. Terucap jazakumullahu khairan katsiran kepada segenap panitia kajian akbar atas curahan waktu dan tenaganya. Semoga Allah membalas dengan pahala yang berlipat.
Ditulis oleh Janu Muhammad hafizhohulloh. Diposkan di blognya pada Senin 18 Syawwal 1436 H/ 3 Agustus 2015 M.
Ta’liq (komentar berupa catatan kaki)
- Abdullah bin Hisyam berkata, “Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau memegang tangan Umar bin Khaththab radhiyallahu ’anhu. Lalu Umar berkata, ”Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali terhadap diriku sendiri.” Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berkata, (لاَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ) ”Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya (imanmu belum sempurna). Tetapi aku harus lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Kemudian ’Umar berkata, ”Sekarang, demi Alloh. Engkau (Rasulullah) lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berkata, ”Saat ini pula wahai Umar, (imanmu telah sempurna).” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari [XI/523] no: 6632)
- Maksudnya lebih mencintai Rosulullah shallallahu ’alaihi wa sallam daripada orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia seluruhnya. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan, “Demi Alloh, salah seorang dari kalian tidak akan dianggap beriman hingga diriku lebih dia cintai dari pada orang tua, anaknya dan seluruh manusia.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari[I/58] no: 15, dan Muslim dalam Shahih-nya [I/67 no: 69])
- Tentang mempercayai Rosulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ini. Syaikh membawakan hadits tentang lalat. Salah satu riwayat shahih dalam Shahih Bukhari (3320, 5782) memiliki lafadz “Apabila lalat jatuh di bejana salah satu diantara kalian maka celupkanlah karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya terdapat obat penawarnya”. Dan Syaikh dalam bahasan ini terus menerus membaca firman Alloh, “Dan tiadalah yang diucapkannya itu, menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 3-4)
- Nasihat berharga Syaikh berupa bahaya melakukan kreativitas selaras dengan wasiat Rosulullah yakni sebagaimana dalam hadits riwayat At Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “hadits ini hasan shahih.” Beliau bersabda,“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Alloh, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan”
- Syaikh menyebut seruan jahiliyah yaitu fanatisme pada suatu kelompok tertentu sebagai sesuatu yang hina lagi busuk.
- ‘Abdullah ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu adalah seorang sahabat betisnya kecil. Tatkala ia mengambil ranting pohon untuk siwak, tiba-tiba angin berhembus dengan sangat kencang dan menyingkap pakaiannya, sehingga terlihatlah kedua telapak kaki dan betisnya yang kecil. Para sahabat yang melihatnya pun tertawa. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Apa yang sedang kalian tertawakan?” Para sahabat menjawab, “Kedua betisnya yang kecil, wahai Nabiyullah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, (وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُمَا أَثْقَلُ فِي الْمِيْزَانِ مِنْ أُحُدٍ) “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kedua betisnya itu di mizan nanti lebih berat dari pada gunung uhud.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya, I/420-421 dan ath-Thabrani dalam al-Kabiir, IX/75. Hadits ini dinilai shahih oleh al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shohihah, no. 3192).
- Imam al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallaahu ‘anhu bahwa pernah suatu hari Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam melakukan shalat di sisi Baitullah sedangkan Abu Jahal dan rekan-rekannya tengah duduk-duduk. Lalu sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: “Siapa diantara kalian yang akan membawa kotoran onta Bani Fulan lalu menumpahkannya ke punggung Muhammad saat dia sedang sujud?”. Maka bangkitlah ‘Uqbah bin Abi Mu’ith, sosok yang paling sangar diantara mereka, membawa kotoran tersebut sembari memperhatikan gerak-gerik Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Tatkala beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam beranjak sujud kepada Allah, dia menumpahkan kotoran tersebut ke arah punggungnya diantara dua bahunya. Aku (Ibnu Mas’ud-red) memandangi hal itu dan ingin sekali melakukan sesuatu andai aku memiliki perlindungan (suaka). Lalu mereka tertawa sambil masing-masing saling mencolek dan memiringkan badan satu sama lainnya dengan penuh kesombongan dan keangkuhan sedangkan Rasulullah masih sujud. Beliau tidak dapat mengangkat kepalanya hingga Fathimah datang dan membuang kotoran tersebut dari punggung beliau, barulah beliau mengangkat kepala, kemudian berdoa: ‘Ya Alloh! berilah balasan (setimpal) kepada kaum Quraisy tersebut‘. Beliau mengucapkannya tiga kali. Doa beliau ini menyesakkan hati mereka. Dia (Ibnu Mas’ud-red) bertutur lagi: ‘mereka menganggap bahwa berdoa di negeri itu (Mekkah) adalah mustajabah. Kemudian dalam doanya tersebut, beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam menyebutkan nama mereka satu per-satu: ‘ Ya Alloh! binasakanlah Abu Jahal, ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, al-Walid bin ‘Utbah, Umayyah bin Khalaf, ‘Uqbah bin Abi Mu’ith – Ibnu Mas’ud menyebutkan yang ke tujuh namun tidak mengingat namanya – . Demi Dzat yang jiwaku di tanganNya! Sungguh aku telah melihat orang-orang yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam tewas mengenaskan di al-Qalib , yaitu kuburan di Badar, Madinah”. Adapun nama orang yang ke tujuh tersebut adalah ‘Imarah bin al-Walid.
Dita’liq oleh Riksa Ginanjar bin Wasirin pada Rabu 20 Syawwal 1436 H/ 5 Agustus 2015 M di Wisma Daarul Quran.
Dari WDQ Wordpress

No comments:
Post a Comment